Are you the publisher? Claim or contact us about this channel


Embed this content in your HTML

Search

Report adult content:

click to rate:

Account: (login)

More Channels


Channel Catalog


Channel Description:

Jasa Desain Profesional

older | 1 | (Page 2)

    0 0

    Ijinkan aku bercerita, tentang perasaan-perasaan yang dipaksa diam. Katakanlah tentang bagaimana tubuh padam seperti matahari yang lisut di balik ombak ketika melihatmu, hanya melihatmu, melihat wajah bulanmu bersinar pada hari yang begitu terang, sebab bagaimana mungkin aku bisa menahan hasrat untuk tidak melihatnya, meski diam-diam, mengintip dari balik dedauan, bahu kawan, juga lirikan. Hanya hasrat yang terus dipaksa bungkam.

    Bisakah kamu membayangkan apa yang sedang kurasakan? Bagaimana aku hanya bisa membayangkan menyentuh jejarimu, menyentuh alismu yang berbaris rapi, mengusap rambutmu yang hitam tergerai di kening, di kuping, sebab aku tidak akan pernah bisa menyentuhnya dengan perasaan yang berbeda selain sebagai seorang kawan. Bagaimana mungkin bisa menyentuh hatimu?

    Surat Cinta


    Telah kuciptakan banyak puisi untukmu, untuk meluluhkan hatimu, berharap kamu menoleh dan melihatku sejenak di ujung hari yang kian tua ini, sekedar menikmati sore yang sebentar lagi malam, mungkin juga hujan yang membawa titik-titik air membasuh permukaan bumi. Telah kuciptakan banyak puisi untukmu. Hanya untukmu, tentang bagaimana aku mengagumimu, bagaimana aku mengenangkan matamu, bagaimana caramu tertawa, bicara, tersenyum.

    Aku akan tetap mencintaimu sampai tanganku tak mampu menulis lagi, sampai mataku tak bisa terbuka lagi, sampai nafasku tak berhembus lagi, sampai jantungku tak berdenyut lagi, sampai kata-kata telah habis kutulis menjadi bait puisi yang menceritakan tentangmu, hanya tentangmu, juga tentang perasaanku padamu.

    Kalau Pablo Neruda menulis ‘puisi paling sedih’ untuk mengenang kekasihnya, maka aku akan menulis puisi yang lebih sedih lagi, misalnya tentang hatiku yang terus menjerit melihat tubuhmu seperti ombak biru yang menghempas pantai dan karang dan udara. Juga perahu nelayan yang mencoba menepi, juga perahuku yang terus terombang-ambing kehilangan arah.

    Kalau hari memang tidak pernah berpihak padaku, tak apa, sebab ketika akhirnya kapalku karam di sebuah negeri yang belum bernama, aku akan terus mencintaimu seperti angin yang terus membelai wajahmu, udara yang memberimu kehidupan. Aku akan menanami seribu jenis bunga di sebuah taman, juga seribu puisi, tempat mematrikan kenanganku tentangmu.

    Maka ijinkan aku bercerita sekali lagi, sebelum kamu pergi dengan pengantinmu, dan merenggut nafas dari paru-paruku.


    0 0
  • 07/15/15--15:36: Jangan Khawatir, Nak
  • Bayi-bayi yang mungil. Bayi-bayi yang hidupnya masih bergantung pada orang dewasa. Tangan-tangan yang mungil, kaki yang terlihat rapuh, mata yang kecil, juga tangis yang mendamaikan. Begitu manis, begitu indah, begitu suci. Sebab kencing dan kotoran mereka saja tidak bau.
    Hanya kita orang-orang dewasa yang akan mengotori mereka dengan keinginan-keinginan yang dibebankan kepada meraka. Sesuatu yang menurut kita terbaik, tapi belum tentu terbaik untuk dirinya. Usia sekian sudah harus les ballet atau piano. Lalu les bahasa inggris, les renang, les modelling atau vokal. Sementara waktu mereka bermain dan menjadi diri sendiri hilang.



    Kita, sering menyerupai anak dengan bahan mentah keramik. Membentuknya sesuka hati sesuai keinginan tanpa membiarkannya tumbuh alami. Waktu untuk mereka tumbuh menjadi dirinya kita rampas dengan les-les mengerikan itu. Kita -- orang-orang dewasa, sering menjadi pembunuh karakter anak-anak kita.

    Maka, jangan khawatir nak, kelak ayah akan memberikan kebebasan untuk menjadi dirimu sendiri.

    0 0

    Sayang, sadarkah betapa menakjubkannya dirimu? Senyummu sesejuk air sungai surgawi pelepas dahaga, matamu seindah kerlip bintang yang menghiasi malam jelaga. Tawamu semerdu nyanyian para Diva utusan khayangan. Gerakmu indah --meski tiada pasti. Maka, berilah aku seteguk air surgawimu, biarkan aku mengagumi kerlip bintangmu, sambil aku rebah di rerumputan, menikmati merdu tawamu. Akan kuceritakan sebuah rahasia kecilku dengan rembulan, ketika suatu waktu aku sempat memandangi dirimu yang terlelap diantara pinus-pinus di pinggir danau yang riak airnya berkilauan bak permata, terbias cahaya purnama yang tersenyum di pojok langit.


    prosa cinta

    Roman wajahmu selugu bayi baru terlahir. Oh… rasanya ingin membelai rambutmu, menyentuh alismu, mengecup matamu yang terpejam, lalu bibirmu yang menyunggingkan senyum. Tapi aku cuma memandangimu, sebab engkau terlalu menghanyutkan korneaku.

    “Aku mencintainya, Bulan".

    Akan kuminta langit melatari lukisanmu, dan awan meneduhkanmu dari panas.

    “Tapi aku tidak bisa terbang”.

    Bersiaplah, sayapmu akan tumbuh, telah kuminta Dewa-dewa meminjamkannya untukmu.

    “Terima kasih, Bulan”.

    Berbahagialah, sebab cintamu cintanya akan menjadi awan-awan Nebula yang abadi menghiasi semesta

    ***


    0 0

    "Kamu tidak perhatian. Kamu lupa apa warna favoritku, lagu kesukaanku, kamu lupa, kamu tidak perhatian."

    Lupa dan Perhatian. Aku tak melihat hubungannya. Apalagi dihubungkan dengan Cinta? Apa hati yang mencinta saja tidak cukup. Apa kesetiaan saja tidak cukup. Lupaku bukan bentuk ketidakperhatianku. Apakah begitu penting warna favorit, lagu kesukaan? Cinta adalah ingatan, seperti itu kah? Apakah berarti cinta tidak ada ketika ingatan memudar seperti pasangan diatas 50 tahun, tidak ada lagi cinta. Aku tidak setuju. Bagaimana dengan aku yang sudah pelupa sebelum 50 tahun? Apakah aku tak pantas untuk mencinta dan dicinta?

    "Kamu lupa tanggal kita jadian dan tahun lalu kamu lupa ulang tahunku. Lupa adalah tanda tidak mencinta."

    Aku tak tahu hal-hal seperti ini begitu penting bagi perempuan. Romantisme perempuan penuh kekurangajaran. Selalu melihat yang sepele dan tutup mata pada hal yang besar.

    Bagaimana mungkin kamu bilang hatimu hal yang besar yang penuh kesetiaan dan cinta jika ulang tahunku saja kamu tidak ingat?"

    "Aku pelupa."

    "Alasan yang paling tidak masuk akal."


    Hubungan antara Lupa dan Cinta

    Aku menertawakan lupaku. Menertawakan definisi cinta baru. Menertawakan diriku sendiri.

    Semoga aku lupa. Aku tertawa lagi. Lupa mencintai, lupa dicintai. Lupa sakit hati. Betapa menyenangkan menjadi lupa.

    0 0

    Salam, kali ini coba bikin Cerpen tentang mencintai sahabat sendiri. Tetapi tak hanya itu, mencintai dengan diam-diam. Cerpen cinta dalam hati, cinta diam-diam. Cerpen ini berjudul "Ajari Aku Menangis" dengan setting Jakarta dan Jogja. Cerpen Cinta yang berakhir sedih. Selamat Membaca.

    Cerpen Cinta Dalam Hati


    Ajari Aku Menangis
    Oleh : Wirasatriaji


    “Yakin mau ke Jogya?”

    “Yakin.”

    “Udah siap mental?”

    “Siap.”

    “Tahu enggak, kadang-kadang gue tuh nganggep elo kurang waras atau terlalu baik sama orang. Jelas-jelas hal kayak gini bakal bikin elo sakit hati…eit, jangan menyela dulu. Gue tahu banget apa yang elo rasain. Lo sahabat terbaik yang gue pernah punya, Laras, gue nggak mau elo terus-terusan nyakitin diri sendiri.”

    “Kamu juga sahabat terbaik yang pernah saya punya. Thanks udah perhatiin, tapi untuk yang satu ini saya harus datang…”

    “Why…coba kasih satu alasan ke gue kenapa lo harus datang?”

    “Dia sahabatku. Artinya, pacarnya juga temanku, apalagi ini masalah mereka berdua.”

    “Bener banget. Masalah mereka berdua, bukan masalah elo. Pacarnya yang cemburu gara-gara cowoknya suka ngomongin cewek lain yang lebih cantik dari dia, bukannya ngomong ke cowoknya malah nangis bobay gitu di telepon.”

    “Dia nggak berani ngomong. Takut dikira posesif.”

    “Masalah ya dihadapi dong, jangan dipendam. Kalau cuma diemmmm aja, mana cowoknya bisa tahu dia terganggu kalau cowoknya suka muji cewek lain.”

    “Maklum ajalah, anak baru kuliah.”

    “Lagian ngapain sih temen lo udah lewat seperempat abad tapi masih macarin anak ABG?”
    “Namanya cinta, mana bisa dikontrol, datang ya datang aja. Pergi ya pergi aja.”

    “Tapi cinta elo ke dia kok nggak ilang ya? Percuma meski gue udah nyodorin seratus cowok ganteng ke elo, hati lo tetep aja keukeh sama tu cowok.”

    “Saya packing dulu.”

    “Mau dibantu?”

    “Nggak usah. Cuma buat sehari ini, cuma bawa baju ganti aja.”


    ***

    Ada kesesakan yang datang begitu saya keluar dari pintu pesawat, ketika kulit saya kembali disengat panas cuaca Jogja, ketika paru-paru saya kembali menghirup udara yang padanya pernah saya titipkan kehidupan juga do’a dan harapan. Entah kenapa. Barangkali Cahaya benar, saya tidak lagi siap datang ke kota ini menemui lelaki yang tanpa sadar sering melukai saya. Ada rasa takut yang tiba-tiba datang, tetapi ada juga rasa kangen yang begitu dalam. Seperti apakah dia sekarang? Berubahkah?

    Saya berjalan cepat melewati jalan aspal menuju ruang kedatangan. Karena tidak punya bagasi, saya langsung menuju pintu keluar tanpa harus berurusan dengan petugas pemeriksa yang meski ramah tetapi tetap penuh kecurigaan.

    Melewati pintu, mata saya langsung tertubruk ada sesosok yang begitu saya kenal, yang padanya telah saya serahkan hati saya. Seorang sahabat yang seiring waktu membuat saya jatuh cinta sama dia tanpa pernah dia sadari, atau sesungguhnya dia menyadari itu tetapi mendiamkanya sebab dia tidak punya perasaan yang sama seperti saya terhadapnya.

    Tidak banyak yang berubah darinya. Rambutnya masih gondrong nggak karuan. Pakaian yang menempel di tubuhnya masih celana jeans dan kaos oblong lusuh dengan sepatu kets usang menempel di kaki. Apakah baunya masih sama? Saya belum tahu. Sudah dua tahun lebih saya tidak bertemu dengannya sejak lulus kuliah, saya bekerja di Jakarta, dia menetap di Jogja, membuka tempat kursus musik bareng kawan kuliahnya, juga kabarnya tengah mempersiapkan sebuah album etnik kontemporer yang dibiayai oleh Lembaga Indonesia Perancis.

    Dia tersenyum sama saya, sama seperti dulu, hangat. Memeluk tubuh saya yang langsung tenggelam dalam tubuhnya. 170cm dibanding 163cm. Baunya masih sama, keringat khas lelaki. Hangat tubuhnya juga masih sama.

    “Makin cantik aja kamu.” Katanya melepaskan pelukan dan memandang wajah saya. Sebentar hati saya bahagia atas pujiannya, saya rasakan wajah saya memanas, mungkin merah. Cepat saya menunduk.

    “Bawa kendaraan atau kita naik taksi?” tanyaku cepat.

    “Aku bawa mobil kawanku.”

    Kami berjalan beriringan menuju tempat parkir. Dia menggenggam tangan saya persis seperti dulu kalau kami sedang jalan berdua. Genggamannya kokoh. Saya merasa begitu aman di dekatnya.
    Kami berbicara banyak di dalam mobil menuju hotel saya menginap. Tentang kabar saya, tentang kabarnya, kabar kawan-kawan lama yang juga sudah lama nggak ketemu. Saya tanya kabar pacarnya, katanya baik.

    Tapi saya nggak cerita kalau pacarnya sering kirim sms sama saya untuk sekedar tanya tentang dia, apa kesukaannya, apa yang dibencinya, atau yang terakhir soal cemburu sebab sahabat saya ini suka sekali ngomongin cewek cantik yang dikenalnya. Saya juga nggak bakal cerita kalau kedatangan saya ke Jogja bukan sekedar berkunjung untuk refreshing seperti yang saya bilang, tapi pacarnya kirim sms kepingin ketemu saya. Mau minta tolong saya untuk menjelaskan soal kecemburuannya sama sahabat saya.

    Waktu saya tanya, kenapa saya? Dia jawab sebab saya yang dekat dengan pacarnya, sebab pacarnya selalu memuji saya sebagai seorang sahabat terbaik yang pernah dimilikinya.

    Dia meninggalkan saya di penginapan untuk istirahat sebab malamnya kami mau pergi bernostalgia dengan minum teh poci di utara stasiun Tugu, barangkali setelahnya menyusuri Maliboro, menikmatinya waktu malam, waktu kendaraan sepi dan hanya ada penjual gudeg, pengamen, pengemis, dan pasangan bercinta.

    Dari penginapan, saya menelepon pacarnya untuk mengabarkan kedatangan saya dan membuat janji bertemu di luar jadwal dengan sahabat saya. Dia mengusulkan besok pagi datang ke hotel saya saat sarapan pagi sebab siangnya saya mau pergi mengunjungi kawan saya yang lain dan sore sudah pulang ke Jakarta.

    ***

    Dua tahun sudah saya meninggalkan kota ini. Tak banyak yang berubah, kecuali saya merasa cuaca Jogja yang semakin panas menyengat dan pelan namun pasti, kota ini berusaha mempercantik diri dengan mencontek Jakarta. Memasang lampu-lampu gemerlap yang membuat malam lebih cantik, bukan hanya fungsi penerangan, tetapi juga keindahan. Tapi saya merasa terganggu dengan bangku beton yang membuat depan benteng Vrederbug tidak selapang dulu. Tidak ada lagi anak-anak punk yang sering nongkrong disana. Saya kenal beberapa dari mereka sebab saya juga sering menghabiskan waktu disana.

    Dari penginapan saya di jalan Janti, kami naik taksi sampai perempatan di depan kantor pos pusat. Lalu jalan kaki ke Utara, menuju stasiun Tugu. Panca, sahabat saya sudah minta izin sama Alya, pacarnya, untuk menghabiskan malam ini dengan saya sebab sudah dua tahun nggak ketemu. Tentu saja pacarnya mengizinkan, sebab ini bagian dari rencana kita juga.

    Maka, sepanjang perjalanan menuju tempat minum teh poci, diantara obroloan masa lalu, saya selipkan pertanyaan soal pacarnya yang saya belum pernah ketemu dengannya. Tidak mengenal wajahnya. Apakah dia cantik fisiknya atau hatinya yang membuatnya kagum.

    Panca sepertinya bukan tipe lelaki yang mengagungkan kecantikan, sebab selama saya mengenalnya, dia tidak hanya pacaran dengan perempuan berparas bak dewi, tetapi ada juga yang punya tampang standar. Saya pernah menghitung berapa cewek yang sudah dikencaninya, lebih dari dua belas selama lima tahun saya mengenalnya. Dari semua ceweknya, maka saya tahu dia bukan pencinta perempuan tampang keren tok. Itu juga yang membikin saya heran sama pengaduan pacarnya yang sekarang. Barangkali pacarnya aja yang emang cemburuan, begitu sempat saya pikir juga.

    Tak ada yang salah dengan cemburu asal kadarnya pas dan nggak membikin orang jadi kurang waras dengan melakukan hal-hal yang bisa merugikan diri sendiri. Tak ada yang salah meski ia membakar seluruh tubuhmu, sebab saya merasakannya lebih dari empat tahun. Saya cemburu sama gadis-gadis yang dikenalkan Panca sebagai pacarnya, atau hanya sekedar untuk ditiduri. Tubuh saya rasanya seperti disayat sembilu yang ngilu saat dia dengan cuek menceritakan soal bagaimana dia meniduri gadis-gadisnya. Atau ketika dia ngajak saya pergi ke mall nyari kado untuk pacarnya yang ulang tahun atau ikut euforia valentine. Sakit yang disembunyikan dalam senyum.

    Saya cemburu. Tetapi sadar itu bukan salahnya. Itu salah saya sendiri yang mencintainya dan merasa sakit melihat hubungannya dengan gadis lain. Saya yang mencinta, bukan dia. Maka saya yang harus menanggung sakitnya sendiri.

    Cerpen Cinta Dalam Hati


    Sepanjang jalan, dia kembali menggenggam tangan saya. Kami seperti pasangan yang sedang kasmaran. Kenyataannya, saya yang kasmaran sama dia, tetapi tidak sebaliknya. Saya nikmati sentuhan kulit tangannya yang kasar. Saya resapi sentuhan kulitnya pada kulit tangan saya. Saya simpan dalam memori bau tubuh dan nafasnya, juga bau rambutnya yang apek. Mendadak saya merasa begitu sedih. Saya merasakan sesuatu yang saya inginkan begitu dekat, tetapi tidak pernah bisa saya miliki. Saya merasakan dada saya sesak, tetapi saya tahan kuat-kuat supaya dia tidak membentuk isak, atau tangis. Maka saya menggigit bibir.

    “Kok bibirnya digigit?”

    Saya hanya menggeleng.

    “Jangan dibiasain, ah. Jelek.”

    Saya hanya tersenyum. Kami sampai di tempat minum teh Poci. Tempat itu ramai seperti biasa, tak banyak juga yang berubah. Orang-orang yang menikmati suasana malam itu disitu dengan segelas teh masih saja suka membuangi sampahkan di tepi jalan tempat mereka duduk di atas trotoar. Dari segi kebersihan, tempat ini jauh dari kata sehat, tetapi entah kenapa selalu saja dan tetap saja ramai dikunjungi. Termasuk kami waktu-waktu dulu.

    Panca memesan dua gelas teh dan Jadah bakar, juga beberapa gorengan.

    “Kok pacar kamu nggak diajak?” Tanyanya setelah duduk lagi disampingku.

    “Belum punya.” Jawab saya pendek.

    “Aku heran deh sama kamu, Ras. Sejak kita kenal enam tahun lalu, kamu kok enggak pernah pacaran sih?”

    “Nggak ada cowok yang cocok aja.”

    “Memangnya tipe kamu gimana?”

    “Nggak ada tipe-tipean. Emang rumah?”

    “Terus, jangan-jangan kamu penyuka sesama jenis lagi.”

    Saya menampar pundaknya.

    “Saya masih normal, om. Jangan curigaan deh sama orang yang nggak pacaran. Masing-masing orang kan punya prinsip yang beda. Lagian namanya cinta kan sesuatu yang nggak bisa ditebak.”
    “Tapi seenggaknya pernah naksirlah sama cowok.”

    “Pernah. Sekali. Sampai sekarang masih.”

    “Siapa?”

    Kamu, hati saya berkata. Tetapi mulut saya mengatakan : “Mau tau aja.”

    “Terus selama ini kamu simpen aja perasaan kamu sama cowok itu?”

    Saya mengangguk.

    “Kok nggak diungkapin aja?”

    “Saya masih waras. Sampai tahun air lebih mahal dari emas juga kalau’ cewek ngungkapin cintanya ke cowok bakal dikira cewek nggak bener, murahan.”

    “Aku enggak. Banyak cewek yang justru nembak aku.”

    “Dan kamu manfaatin? Sama aja.”

    Dia tertawa. Teh pesanan kami datang. Di beberapa tempat yang juga menjual teh poci, mereka memakai gula batu, bukan gula pasir. Tetapi di tempat ini saya belum tahu mereka memakai gula pasir atau gula batu. Nggak peduli aja, sebab tehnya enak.

    “Panca, kamu pernah cemburu nggak?”

    Dia menatap saya, barangkali heran dengan pertanyaan yang baru saja saya ajukan.

    “Pernah. Kenapa?”

    “Kenapa cemburu?”

    Dia mengernyitkan dahi, barangkali berpikir, menggali memori sebab dia cemburu, atau barangkali kebingungan dengan pertanyaan saja lagi.

    “Cemburu waktu abangku dapat mobil pas kuliah tapi aku enggak.”

    Sial, makiku dalam hati.

    “Bukan itu. Cemburu sama pacar.”

    “Kok nanya gitu sih?”

    “Ya nanya aja. Karena kayaknya kamu nggak punya rasa cemburu sama pacar-pacar kamu.”

    “Cemburu nggak sehat, ngapain dipelihara.”

    “Tapi itu kan normal untuk manusia. Kalo kamu nggak pernah cemburu rasanya abnormal deh.”

    “Cemburu pernahlah, cuma aku nggak pernah membikin itu serius. Kalau liat cewekku jalan sama cowok lain, cemburu pasti ada, apalagi dia muji cowok lain di depanku, tapi nggak dipikirin deh. Kalau dia mau pacaran sama cowok itu, aku juga bisa kencan dengan cewek lain. Urusan selesai.”

    “Enak bener ya prinsip kamu.”

    “Hidup udah susah, ngapain dibikin susah lagi.”

    Saya menyeruput teh saya. Hangat. Lalu menggigit sepotong jadah bakar.

    “Kayaknya ada yang kurang. Rasanya hambar gitu ya?” Kataku setelah mengunyah Jadah Bakar.
    Dia mengambil sepotong dan menggigitnya dan mengiyakan apa yang saya rasa.

    Semakin malam, tempat itu bukan semakin sepi, justru semakin padat oleh pengunjung. Sampah bertebaran dimana-mana. Lalu lalang kendaraan yang mencoba mencari tempat parkir atau sekedar lewat.

    “Kamu pernah kepikiran untuk serius pacaran nggak, sih? Kok kayaknya masih having fun saja.”

    “Masih muda non. Baru dua lima ini. Kalo mau serius kawin, entar dulu ah.”

    “Kamu pernah hitung nggak, berapa kali pacaran?”

    Dia diam sebentar, barangkali mencoba mengingat berapa cewek yang sudah dipacarinya.

    “Lupa.” Jawabnya sambil nyengir.

    “Selama kita kenal, ada dua belas cewek yang kamu pacari. Yang sekarang ini ketiga belas.”

    “Elo ngitung? Hahahaha. Aku aja enggak.”

    Saya hanya tersenyum. Menyeruput lagi teh poci, mencoba menenangkan hati. Membahas soal pacar-pacarnya selalu saja membuat hati saya sakit. Bagaimanapun, saya masih mencintainya.

    “Pernah nggak kamu tahu, atau tanya, berapa sakit yang udah kamu ciptakan untuk cewek kamu?”

    Dia diam, menatap saya heran.

    “Memang ada apa sih?”

    “Nggak ada apa-apa, aku cuma nanya aja.”

    “Aku nggak tahu. Nggak pernah nanya.”

    “Dari tiga belas itu. Barangkali ada yang cuek aja kamu putusin. Ada yang cuek aja waktu kalian masih pacaran lalu kamu kencani cewek lain untuk sekedar one night stand. Ada yang cuek sama gaya hidup kamu. Tapi...” saya menghela nafas, mencoba mengontrol emosi, ”pasti ada salah satu dari mereka yang memuja kamu habis-habisan. Membayangkan sebuah masa depan denganmu. Menjadi ayah dari anak-anaknya. Ada yang cemburu waktu kamu bilang cinta sama dia tapi kamu juga saat yang bersamaan meniduri gadis lain. Apa kamu nggak sadar itu?”

    Saya menangkap ekspresi terkejut di wajahnya yang menatap saya.

    “Laras...”

    “Panca, kamu boleh nggak peduli sama perempuan yang memang hanya mau menikmati tubuh kamu seperti kamu juga cuma mau seks aja. Kamu boleh jadi tipe cowok yang nggak romantis, yang nggak suka mengungkapkan rasa cinta kamu secara berlebihan ke cewek. Kamu bisa cuek kalau orang menuduh kamu playboy cap duren tiga atau apalah. Tapi coba sesekali kamu menghargai orang yang mencintai kamu sungguh-sungguh. Banyak gadis-gadis itu yang begitu.”

    “Aku nggak tahu harus ngomong apa. Juga nggak tahu kenapa kamu ngomong begini sama aku.”

    “Karena kamu sahabat saya. Saya nggak pengen kamu menyia-nyiakan begitu banyak kesempatan. Saya juga perempuan, tahu gimana rasanya sakit. Gimana rasanya cemburu.”

    Dia menunduk. Saya menunduk. Ada perasaan lega setelah mengungkapkan semua.

    “Alya cemburu sama kamu.” Kata saya akhirnya.

    Dia mendongak cepat menatap saya yang juga menatapnya.

    “Dia cerita sama kamu?”

    “Dia sering sms sama saya.”

    “Tahu dari mana nomer kamu?”

    “Katanya lihat di hpmu.”

    “Terus, kenapa dia cemburu?”

    “Itulah kamu,” saya mendesah. “Gak pernah sensitif sama perasaan perempuan. Dia cemburu karena kamu suka nyeritain cewek cantik yang kamu temuin atau kamu kagumi. Bahkan katanya kamu sering godain cewek di depannya. Kadang-kadang saya mikir kamu nggak waras tau!”

    “Kenapa dia nggak bilang?”

    “Takut dikira posesif.”

    “Oh God.”

    “Dia bukan yang pertama.”

    “Maksud kamu?”

    “Banyak pacarmu yang datang ke saya dan ngadu soal tingkah laku kamu dan minta saya nasehatin kamu.”

    “Kenapa kamu nggak ngomong.”

    “Saya nggak merasa berhak aja.”

    Bohong! tolak hati saya. Sebab saya sakit hati dengan semua pengaduan yang datang. Di depan cewek-cewek itu saya bilang kamu memang cuek. Saya bilang mereka harus sabar menghadapi kamu sambil dengan bahasa halus menghasut supaya mereka putus asa mencintaimu. Dengan begitu kalian bisa putus dan saya senang kalau kamu nggak punya pacar. Saya memang jahat, Panca. Maafkan saya. Makanya saya nggak pernah bilang sama kamu. Hari ini saya mau menebus semuanya.

    “Serius apa enggak dengan cewek, harusnya kamu tetap harus jaga perasaan orang. Pacaran itu kan nggak searah. Kita nggak boleh egois dong.”

    “Kamu emang sahabat terbaikku.” Katanya menggenggam tanganku.

    Malam ini kami habiskan dengan menyusuri jalan-jalan yang pernah kami lalui.

    ***

    Dia masih menggenggam tangan saya, di bangku ruang tunggu bandara ini. Dia bilang sudah memikirkan percakapan soal tadi malam. Bukan percakapan persisnya. Repetan saya soal hubungan dengan gadis-gadisnya.

    Ponsel saya berbunyi. Saya melihat nama Alya ada di sana. Saya mengangkatnya dan membawanya ke toilet sebab ruangan itu begitu riuh.

    Melalui telepon, gadis itu mengatakan bahwa Panca datang sama dia setelah di pulang dari hotel menemui saya. Katanya, Panca meminta maaf kalau selama ini sering melukainya dengan membuatnya cemburu. Panca berjanji akan berubah. Tone suara gadis itu terdengar ceria, seperti balon gas yang baru saja diterbangkan. Ringan. Hati saya yang meleleh seperti kerupuk yang dimasukkan ke dalam sup panas. Maka saya hanya menggigit bibir. Kebahagiaannya melukai saya. Kebahagiaan yang saya ciptakan untuknya. Seperti menusuk pisau ke jantung sendiri.

    Saat akan boarding, Panca memeluk tubuh saya, menenggelamkan kepala saya pada dadanya. Inilah saat yang paling saya suka sekaligus saya benci. Saat yang begitu membahagiakan sekaligus menyayat hati saya. Tetapi tubuh saya barangkali sudah begitu kebal terhadap sakit, sudah terlalu fasih menahan air mata supaya tidak turun hingga dia hanya jatuh ke dalam. Melukai dari dalam.
    Hati saya sesak. Dada saya sesak.

    Saya segera melepaskan pelukan sebelum saya benar-benar jatuh. Melangkah terburu-buru menuju pintu keluar yang disambut senyum ramah oleh penjaga pintu. Sambil berjalan, saya menelepon Cahaya. Tak ada jawaban.

    Saya harusnya sadar dengan apa yang dikatakan Cahaya benar adanya. Saya memang nggak akan kuat terus-terusan menyiksa diri begini. Saya sudah terlalu banyak melukai diri sendiri dengan tetap diam, menyimpan perasaan dalam-dalam. Tetapi, barangkali sakit yang saya ciptakan itu adalah permintaan tubuh yang begitu rapuh ini. Barangkali itulah kebahagiaan saya. Menderita oleh cemburu yang tak akan habis. Menyiksa diri sendiri.

    Begitu duduk di dalam pesawat, sebelum saya buat "mode airplane", ponsel saya berbunyi. Cahaya.

    “Maaf tadi waktu elo call gue lagi di belakang. HP-nya gue taruh di kamar. Ada apa?” Tanyanya di seberang.

    Saya diam, menahan sesak dan sakit yang menggempur hati saya. Serupa seribu sembilu diiris pada tubuh saya.

    “Laras?” Suara Cahaya memastikan suara saya.

    “Ya?” Jawab saya lemas.

    “Kenapa? Ada apa Laras?”

    “Ajari aku gimana caranya nangis.”


    ***


    0 0

    Salam. Kembali coba bikin cerpen yang masih bertema tentang cinta. Ini merupakan cerpen lama saya. Cerpen cinta yang bercerita tentang cerpen cinta yang tak kesampaian, cinta tak terbalas, dan juga masuk dalam cerpen cinta diam-diam. Cerpen tentang cinta pertama.

    Berikut Cerpen lengkapnya:


    Biola Tanpa Dawai
    Oleh : Wirasatriaji

    Bagi remaja yang berjiwa muda penuh cinta, malam minggu adalah malam yang paling dinanti. Bagiku? sudah bisa ditebak. Tak ada bedanya dengan malam lainnya. Paling besok adalah hari mencuci pakaian dan membersihkan kamar. Tak ada yang istimewa. Sebab aku juga malas terjebak dalam tradisi yang akhirnya melahirkan sentimentil memuakkan juga penderitaan.

    Sepulang dari studio musik, aku menuju mall guna mencari kemeja demi pementasan musik pekan depan. Lagipula menurut iklan radio, Department Store ini sedang mengadakan diskon 70% plus 20%. Lupa bahwa ini malam minggu, membuatku sedikit shock ketika memasuki lantai dasar yang penuh sesak. Orangtua yang menggandeng anak-anaknya, muda-mudi yang sibuk bergandengan mesra, juga remaja tanggung yang banyak bergerombol dengan dandanan menohok pandangan. Seketika aku merasa gerah meskipun ruangan sejuk. Lalu kuputuskan memasuki sebuah toko buku setelah menimbang hanya toko itu yang cukup lega dengan beberapa nafas yang hinggap di sana.
    Aku berjalan memutari rak buku yang tetata rapi. Memasang earphone pada kedua daun telinga. Suara milik Ayu tingting dengan alamat palsunya seketika memenuhi rongga dengarku. Kunikmati alunan musik dangdut dengan anggukan-anggukan kecil sambil memandangi deretan buku yang tersusun. Tiba-tiba langkahku terhenti ketika pandanganku menemukan sebuah buku dengan warna sampul dominan abu-abu.  Sebuah gambar sampul buku yang membenturkanku pada kenangan ketika aku masih terbalut putih abu-abu. Selarik kenangan yang mungkin juga abu-abu. Sebab putih tidak, hitampun lain.

    Keisya, kamu dimana sekarang? aku rindu teduh matamu, desah batinku sembari mengangkat buku untuk memisahkannya dari barisan buku lain. Benakku seketika biru, melilit imajinasi fragmen cinta. Slide-slide kenangan memutar setiap adegan yang tergambar ribuan hal. Ada kekeh panjangnya, bahak lebarnya, tawa renyahnya, juga senyum manjanya. Rasanya aku harus menyiapkan pincuk daun untuk menampung serpihan kisah tertindih yang terlahir dari masa itu. Dia yang dulu duduk di bangku belakang sebelah kanan dariku, hanya mampu kupandangi diam-diam. Seperti pencuri, kunikmati tiap kubik senyum yang tercecer. Ada setangkup hasrat untuk membakar sepersekian waktuku demi meliriknya.

    Sudah aku pasrahkan mencintainya diam-diam. Terlalu banyak yang harus diperhitungkan untuk merengkuhnya. Hampir semua murid laki-laki satu sekolah menyukainya. Aku juga tak pernah mengobrol dengannya meskipun satu kelas, bahkan selama tiga tahun. Eh, tapi dia sempat bertanya padaku menjelang acara malam perpisahan siswa. Band kamu main ya nanti malam? Ah, kalimat itu masih menggaung jelas di sekat-sekat ingatan. Waktu itu aku hanya mengangguk, lebih tepatnya menunduk. Teduh matanya, tebal alisnya yang berbelok sempurna, wajah bulannya, semuanya terlalu istimewa untuk kusedekahkan pada pandangan mata.

    Malamnya seusai aku turun dari panggung, dia melepas pandangan ke arahku. Dengan pertimbangan sedemikian rupa, aku melempar senyum ke arahnya. Seketika itu juga dadaku berdetak tak teratur. Iramanya menjadi tak jelas. Kadang berdegup kencang, kadang sempurna diam. Aku memang mampu menguasai panggung saat menggebug drum di atas pentas, tapi tidak di teduh matanya. Hanya senyuman yang mampu kuisyaratkan. Aku sangat berharap waktu itu dia mampu menanggapi apa yang kuisyaratkan, sekalipun mungkin hanya mengedipkan mata satu kali kearahku yang kaku di ujung tangga panggung.

    Dan besoknya aku tak lagi melihatnya, tak lagi satu kelas, tetapi barangkali ini yang terbaik. Mencintainya diam-diam. Bahkan anginpun tak perlu tahu. Biarlah berhembus sesuai arahnya. Tak perlu merekayasa, biarlah seperti adanya. Seperti halnya perasaan ini yang kubiarkan tetap ada.
    Aku menghela nafas. Menaruh kembali buku ke tempat semula. Mengembalikan kesadaran akan realitas yang sesungguhnya.

    "Rama... " sebuah suara mengurungkan gerak kaki yang hampir kulangkahkan.

    "Keisya?" bibirku tak sempat mengatup. Sedikit shock mendapati sosoknya nyata di hadapanku.

    "Hei, masih ingat aku?" senyumnya mengembang sempurna.

    "Masih," jawabku singkat. Bodoh, aku kangen kamu.

    Kujatuhkan pandangan pada setumpuk buku usai menurunkan earphone yang dari tadi memampat telinga. Memberi peluang pada keheningan diantara sampul buku yang membisu.

    "Kamu belum berubah, masih pendiam," hening pecah oleh ucap Keisya.

    "Kamu juga, masih tetap cantik," balasku datar. Aku tak mampu memunculkan kegembiran. Hanya menyembul di empat sudut hati. Seolah bening kembali setelah empat tahun kekaguman itu mengurung diri.

    "Sendirian?" tanyanya.

    Aku mengangguk, "kamu?"

    "Bareng keluarga," jawabnya singkat. Aku mengerutkan dahi. Bareng keluarga? bukankah ini malam minggu? bukankah harusnya dia bersama kekasihnya? apakah dia belum punya pacar? Ataukah ini takdir Tuhan untuk sebuah awalan indah? Arrrgh... ribuan pertanyaan seketika melesat memenuhi tempurung kepala. Mungkin ini jawaban atas bait-bait do'aku, pikirku. Empat tahun lamanya tak mampu kuusir bayang gadis pemilik senyum manis ini. Nyatanya setiap aku bertanya pada hati, jawabannya selalu sama, dia tak tergantikan.

    "Ama... Ulan ama...(Mama... Pulang mama...) " suara anak kecil yang sedang digendong laki-laki bertubuh besar menuju ke arah kami.

    "Aku pulang dulu ya? itu anak dan suamiku sudah menunggu," ucapnya sambil melambai ke arahku. Sejurus kemudian menghilang diantara sesak pengunjung mall.

    Jari-jari merunduk lemas. Perih di ulu hati, namun tak menetes darah. Cinta itu serupa biola tanpa dawai. Ya, biola itu tak akan berbunyi, sebab tak ada dawai yang bisa dipetik, ia tetap diam. Diam dalam kematian yang sempurna. Maka, aku menanggung kegelisahan hati. Lalu sedetik kemudian aku berhasil tertawa, sebab menyadari bahwa aku bukan siapa-siapa untuknya.

     cinta yang tak kesampaian


    Aku pulang dan berharap menemukan kegembiraan lain di sepanjang jalan. Tidak jadi membeli kemeja karena sudah hilang selera. Sepanjang jalan aku bersenandung dalam hati, entah lagu apa. Keisya memang tidak salah, aku yang mencinta. Sepihak. Cinta pertamaku yang tak pernah tersampaikan. Kutatap langit yang sepertinya makin pudar, lalu menangis dalam hati.


    0 0

    Semakin berkembangnya teknologi informasi memungkinkan segala sesuatunya tanpa batas.  Kecanggihan teknologi semakin mempermudah manusia untuk menciptakan sesuatu dengan cepat, efektif dan efisien. Berkembangnya teknologi dan mduahnya akses informaasi melalui internet menggiring banyak pihak untuk berlomba-lomba menunjukkan eksistensinya di dunia cyber untuk menunjukkan hal untuk mencapai tujuannya.

    Salah satu masalah yang terjadi saat ini adalah banyaknya pihak yang mengambil foto atau gambar dari pihak lain untuk dijadikan ladang bisnis atau bahkan ajang penipuan yang mengatasnamakan seseorang. Pentingnya hak cipta perlu ditonjolkan agar seseorang ingat akan hasil karya dan menghargai originalitas karya. Foto atau gambar misalnya, untuk memuluskan suatu bisnis, banyak orang yang mengambil gambar orang lain yang dicari melalui mesin pencari (google, yahoo, dll) untuk diunduh lalu diunggah ulang pada website atau toko onlinenya.

    Lalu bagaimana cara mencegahnya? secara dasar sebenarnya yang perlu dibenahi adalah mental dasar dari para pelaku ini. Tapi ada cara untuk sekedar mengingatkan agar foto tidak gampang diambil oleh orang dan dipergunakan untuk sesuatu yang komersil atau bahkan untuk menipu. Cara yang saat ini paling efektif menurut saya adalah watermark gambar. Berikan watermark gambar agar tidak diambil orang, sekalipun diambil sumbernya masih tetap terbaca.

    Apakah Watermark merusak keindahan fotografi? watermark biasanya digunakan untuk media pendukung informasi atau promosi barang sehingga nilai atau unsur keindahan menjadi nomor 2 karena tujuan utama penyampaian informasi yang disertai gambar bisa diterima oleh pembaca, atau agar barang yang dipromosikan bisa meyakinkan calon pembeli jika menggunakan foto yang asli, bukan gambar ilustrasi. Jika foto tersebut tidak diberikan watermark bsia saja diambil oleh pesaing kita untuk mempromosikan barangnya.

    Berikut Beberapa Contoh Watermark untuk Foto dan Gambar

    Watermark alamat situs

    Watermark Dengan Logo

    Watermark Logo dan Nama

    Watermark Model Stempel


    Bila anda kesulitan dengan pembuatan watermark untuk usaha promosi anda, kami siap membantu.

    Jasa Pembuatan Watermark

    Kami membuat watermark secara manual sehingga anda bebas memilih tentang peletakan watermark, ukuran, jenis, bahkan warna bisa anda sesuaikan seperti misalnya dengan gaya stempel. Dengan harga relatif murah anda bisa melindungi foto produk anda dari pihak yang tidak bertanggungjawab dan menjaga persaingan terhadap kompetitor anda.


    BBM Pin : 54C3F026
    Facebook : Ali Sakit Wirasatriaji
    Call and SMS: +6285 642 535 866 (also WhatsApp, Line)
    Mail : contact@alisakit.com

    .

    0 0
  • 01/25/16--23:04: Pentingnya Desain Cover Buku
  • Meskipun ada pepatah bilang Don't judge a book by its cover, tetapi nyatanya Desain Cover Buku sangat penting dalam menentukan minat dari para calon pembaca untuk buku tersebut. Isi dalam sebuah buku merupakan hal kesekian bagi setiap orang dalam menentukan membeli buku. Hal yang paling penting adalah Desain Cover Buku dan Sinopsis yang menggugah. Agar sinopsis atau Bulb yang ada di belakang cover sebuah buku, tentunya harus ada rasa ketertarikan dari mata calon pembeli buku unutk meraih buku tersebut. Secara tidak langsung desain sampul buku merupakan hal pertama yang menentukan sebuah buku diambil atau diraih oleh tangan-tangan calon pembaca untuk dilihat dan dibeli.

    Desain Cover Buku yang baik akan memperhatikan setiap aspek grafis. Mulai dari kesan yang timbul, warna dominan, objek yang digunakan, jenis dan bentuk huruf, hingga ornamen lain sebagai pendukung maksud dan tujuan agar sebuah cover buku mampu memberikan gambaran isi buku yang menarik bagi calon pembaca. Dalam sebuah buku, bila desain asal-asalan atau tidak tepat menggambarkan isi, tentu akan membuat pembaca kecewa dan tidak akan membeli lagi buku dari penulis yang sama.

    Jasa Desain Cover Buku


    Semakin menarik desain cover buku, semakin besar peluang dilirik oleh calon pembeli buku. Cover buku adalah senjata utama untuk memasarkan. Tak ubahnya sebuah produk makanan misalnya yang mendesain kemasan sedemikian rupa agar menarik, begitu juga sebuah buku. Gambar atau objek yang ada di cover sebuah buku akan mampu menyampaikan ribuan bahasa bagi yang melihatnya, untuk itulah mengapa desain cover buku harus benar-benar tepat sasaran dan sesuai dengan target pembaca yang dibidik.

    Jasa Desain Cover Buku


    Desain Cover buku juga merupakan salah satu cara menunjukkan genre atau aliran sebuah buku. Buku Novel misalnya, tentu akan berbeda konsep dan desain covernya dengan buku pengembangan diri. Buku Teenlite pun tentu akan berbeda dengan buku sastra.

    Desain cover buku yang tepat akan menampilkan kesan professional dari aspek grafis yang benar-benar dipertimbangkan secara detail. Jadi, dalam membuat buku jangan menganggap remeh sebuah desain cover buku, sebab penentu utama dalam keberhasilan penjualan buku anda.

    Carilah desainer grafis untuk cover buku yang benar-benar profesional dan terpercaya.

    Jasa Desain Cover Buku


    Untuk Jasa Desain Cover Buku, kami sudah terbiasa menangani pesanan Desain Cover buku baik buku fiksi seperti Novel, Novelet, Buku Kumpulan Cerpen, Kumpulan Puisi, atau ilustrasi buku untuk anak. Juga Untuk Cover Buku Non Fiksi seperti Buku  Biografi, Buku Penelitian, Buku Tips dan Trik, dan lain-lain.

    Kami juga menerima desain layout buku dengan harga yang relatif murah. Karena kami bukan tim(perorangan), layanan desain cover dan layout buku dari kami memungkinkan biaya desain yang paling minim.

    Desain Sampul Buku/Cover Buku buatan kami tergolong murah. Berkisar antara 100 - 800 ribu sesuai dengan keinginan dan target pasar untuk buku anda. Kami akan memberikan beberapa pilihan desain dengan revisi tanpa batas. Pengerjaan antara 3-5 hari.

    Selengkapnya tentang service layanan ini anda bisa lihat di halaman : Jasa Desain Cover Buku.



    0 0

    Saat menyusun itinerary untuk Traveling, seringkali memilih alat transportasi menuju tempat wisata menjadi hal yang membingungkan. Tidak jarang harus berpikiri beberapa kali untuk benar-benar bisa menentukan harus menggunakan transportasi apa untuk menujut tempat wisata yang diinginkan. Bahkan, terkadang harus memutar otak jika ongkos untuk transportasi tidak sesuai dengan budget yang tersedia sehingga memotong budget untuk keperluan lain.

    Fenomena ini sering kali dirasakan oleh traveler yang berniat menghemat biaya selama liburan sehingga seringkali mengabaikan pesawat sebagai alat transportasi yang ingin digunakan. Selalu mendahulukan kereta atau bis dengan alasan tiket pesawat itu mahal. Padahal tidak selalu tiket pesawat lebih mahal dibanding dengan tiket kereta atau bus jika dicermati dengan baik.

    Alasan Mengapa Naik Pesawat Saat Traveling Itu Lebih Murah dan Efektif


    Berikut ini adalah beberapa alasan mengapa naik pesawat saat traveling itu lebih murah dan efektif, simak yuk!


    1. Pesawat Mampu Menjangkau Pelosok

    Salah satu hal mengapa naik pesawat itu lebih murah dan efektif adalah karena fleksibilitas dari pesawat yang mampu menjangkau pelosok. Contohnya jika ingin ke salah satu kepulauan yang eksotis dan indah di Berau, Kepulauan Derawan.

    Tujuan pertama untuk ke Kepulauan Derawan di Berau adalah Balikpapan. Jika dari Jakarta ke Balikpapan menggunakan transportasi darat jarak yang harus ditempuh sekitar 2300 Kilometer, bayangkan berapa lama waktu yang dibutuhkan dan biaya akan membengkak, bensin, konsumsi, parkir, dan biaya lainnya tak mungkin bisa dihindarkan.

    Sekarang coba kita bandingkan dengan pesawat, jika menggunakan perjalanan udara dengan Citilink, biaya tiket yang harus dikeluarkan sekitar 500ribuan tanpa harus mengeluarkan biaya untuk konsumsi, parkir, dan lain-lain. Kemudian dari Balikpapan menuju Kepulauan Derawan Jika menggunakan transportasi darat butuh sekitar 12 jam dengan jarak 563 Kilometer. Untuk bensin saja 400 ribuan habis belum lagi biaya lainnya.

    Jika menggunakan pesawat menuju Kepulauan Derawan (Berau) kamu hanya perlu mengeluarkan biaya 500 ribu tanpa harus memikirkan bensin, konsumsi, parkir, biaya supir dan lain-lain. Lebih murah dan efektif tentunya!

    Mengapa bisa dikatakan lebih murah? Karena prinsip dalam traveling adalah time is money.  Jika menemukan waktu yang tepat saja sulit, lalu relakah mengorbankan waktu yang begitu berharga ini dengan menghabiskan waktu diperjalanan? Think smart!
    perjalanan udara dengan Citilink
    Sumber : djogjasumberberita.com

    2. Naik Pesawat = Banyak Tempat Wisata dan Lebih Manfaat

    Alasan selanjutnya mengapa naik pesawat saat traveling itu lebih murah dan efektif adalah,  karena naik pesawat dapat menjangkau tempat wisata lebih banyak dan lebih banyak manfaat yang didapat dibandingkan dengan banyak waktu habis di perjalanan.  Logikanya jika naik pesawat dapat menghemat waktu perjalanan 8 jam (missal) maka dengan waktu 8 jam itu dapat mengunjungi tempat wisata minimal 2 tempat. So, masih mau bilang naik pesawat itu lebih mahal?


    3. Banyak Promo

    Jika pertimbangan tidak naik pesawat adalah karena harga, mungkin perlu lebih cermat untuk bisa dapat harga tiket murah atau promo dari maskapai.  Sebenarnya hampir setiap bulan ada saja promo yang diberikan maskapai atau Online Travel Agent (OTA). Terlebih jika sudah bergabung menjadi member di OTA atau maskapai, biasanya mereka memberikan private pricing kepada member yang loyal dan sering bertransaksi.

    So, sering-sering deh pantai situs maskapai atau OTA, jangan sampai promo atau diskon terlewatkan! Atau sekarang juga bisa pesan tiket dengan cara online via smartphone. Tinggal download aplikasinya, bahkan seringkali harga tiket pesawat di mobile apps lebih murah dibanding dengan di website.
    Sumber : yldist.com

    4. Naik Pesawat Lebih Aman

    Alasan lainnya mengapa naik pesawat saat traveling itu lebih murah dan efektif adalah karena keamanan. Jika sudah berbicara keamanan dan keselamatan maka tak ternilai harganya. Menuru data dari KNKT (Komite Nasional Keselamatan Transportasi) pada tahun 2014, tingkat rasio kecelakaan pesawat hanya 0,76 persen, sedangkan mobil atau motor sekitar 5 persen.  Tinggal memilih maskapai mana yang terpercaya.
    perjalanan udara dengan Citilink
    Sumber : merdeka.com

    Selain itu Barang bawaan yang ditaruh di bagasi pesawat juga lebih aman dan terjamin. Jika ada kehilangan maka pihak maskapai pesawat yang mengganti.

    Itulah 4 alasan mengapa naik pesawat saat traveling itu lebih murah dan efektif, tinggal  bagaimana penyikapan dan mindset kita saja, good bye!




    0 0
  • 11/21/16--02:42: Untuk Putraku yang Terlahir
  • Kukatakan padamu, nak, aku sudah merindukanmu bahkan sebelum paru-parumu memompa udara ke dalam darah yang mengalir di pembuluh. Seperti air jernih di sungai-sungai Kalimantan dan Sumatera beratus-ratus tahun lalu, menelusupi kelok-kelok ceruk diantara pohon-pohon yang menjadi tua dan bijaksana melihat cucu mereka tumbuh menyerupainya.

    Pada hari kelahiranmu, aku berdiri tenang dengan sebuah kamera video di samping perempuan yang padanya kutaruh perasaan cinta yang begitu dalam. Aku telah merekam tangis pertamamu, juga kurekam ketika aku memperdengarkan suara azan di telingamu untuk pertama kali. Kelak, aku akan terus merekam setiap tangis dan tawamu sampai kamu siap untuk pergi meninggalkanku kelak bersama pengantinmu.

    Setiap pagi datang dengan cahaya hangat yang jatuh di pohon dan rumput, aku akan menggendong tubuh telanjangmu, lalu pergi ke halaman belakang rumah kecil yang sudah kusiapkan untuk kita, duduk di sebuah kursi kayu, mendekapmu, membiarkan tubuh kita disiram cahaya yang terus naik. Sebelum horizon menjadi merah, kubasuh tubuhmu dengan air hangat, setelahnya membaluti tubuhmu dengan wewangian dan pakaian dari kain paling halus di muka bumi ini. Ketika malam tiba, kudendangkan dalam gumaman senandung penghiburan. Kalau malam menjadi dingin dan beku, kurangkul tubuh mungilmu yang indah. Tangan dengan jejari yang begitu manis, bibir merah jambu dan matamu yang hitam. Kuusap setiap senti rambutmu dan meletakkan bibirku di telingamu dan mengucapkan ‘meski semua tidak akan baik-baik saja, tetapi kita akan melaluinya’.

    Suatu akhir pekan yang cerah dan hangat di masa kamu sedang belajar berdiri, aku akan membawamu dalam pelukanku melihat dunia. Barangkali kita pergi melihat pameran fotografi di sebuah gallery, atau ke pameran tetumbuhan yang akan kita bawa pulang untuk taman rumah kecil kita. Atau barangkali ke toko buku yang sejuk dan hening dimana kamu bisa melihat betapa luasnya dunia dari kata-kata, dan gambar-gambar yang tersimpan rapi dalam bungkus plastik.

    Kalau kita kebetulan bertemu dengan kawan, atau orang asing yang kagum dengan ketampanan yang kamu warisi dariku, akan kukatakan dalam kebanggaan yang sempurna ‘ini anak lelakiku’.

    Ketika waktunya tiba, akan kulepaskan kau berlarian di lapangan dengan malaikat-malaikat kecil lain. Ada atau tidak aku di pinggir lapangan, percayalah, aku akan selalu memperhatikan setiap gerakmu. Aku akan hapal caramu berlari mengejar bola atau caramu naik sepeda, juga rupamu ketika tidur.

    Bila waktunya tiba, ketika kau menjadi besar, malam sebelum kau pergi ke pelaminan dengan kekasih pilihanmu, akan kuceritakan kenapa aku menamaimu 'Karami'



    0 0
  • 12/30/16--07:01: Selamat Tahun Baru, Kawan
  • alisakit.com - Jangan marah padaku karena terlalu sinis. Maka, tanggal 31 Desember, dengan perasaan berkabung, saya terjebak di jalanan yang macet sepulang kerja. Kendaraan yang tumpah ruah menuju pusat kota. Orang-orang bergerombol membunyikan terompet yang bising. Pengendara kendaraan roda dua sibuk membikin kuping pekak dengan menggeber suara motornya. Bus kota juga dengan kurang ajar menurunkan penumpang seenaknya sebelum rute yang seharusnya dilalui.

    Kenyataannya, saya dihadapkan pada sebuah ironi. Kita melalui pukul 12 malam dengan tawa meriah, ciuman di pipi, di bibir, sementara jutaan orang lain di sana sedang menangis kehilangan keluarga.

    Selamat Tahun Baru


    Sepanjang jalan menembus arus manusia menuju tempat kos, saya melihat orang tua menggendong anaknya yang dipaksa melek untuk diajarkan bagaimana menjadi bagian dari kapitalis, mengikuti sebuah ritual yang sama sekali mereka sendiri tidak bisa memaknai selain pesta, pesta dan pesta. Adakah dari mereka menyadari apa makna tahun baru? Atau sekedar bertanya, memangnya kalau tidur di malam tahun baru terus kenapa? Tahun tetap berganti kan?

    Sekali lagi, jangan marah padaku karena terlalu sinis. Sebab saya memang sudah cukup lama menyadari bahwa ritual serupa tahun baru hanyalah kerjaan kapitalis yang mencari untung dengan membesar-besarkan sesuatu. Bahkan ibadah Puasa saja sudah jadi semacam ritual yang tidak bermakna. Pesta buka puasa dibuat di kafe dan di pinggir jalan, tetapi melupakan sesuatu yang lebih penting dari puasa, yang tanpanya puasa jadi tidak bermakna; salat.

    Kita sudah kehilangan esensi, kawan. Adakah makna tahun baru selain membuat resolusi yang seminggu kemudian kita sudah lupa untuk menjalankannya?

    Tidak ada yang benar dan salah dalam persoalan ini, sebab kalau dipaksa takut dituduh melanggar hak asasi manusia. Tidak salah kok kalau kita mau berpesta, toh duit sendiri, badan sendiri juga. Ini hanya persoalan ‘sense’. Soal selera. Soal kepekaan. Semua serba relatif.

    Selamat Tahun Baru, Kawan.


    0 0

    Dengan banyak televisi manusia mulai dari orang pelosok hingga orang kota bisa mendapatkan informasi yang tak terbatas selama 24 jam ada informasi yang berbentuk hiburan, ekonomi, pendidikan, politik dan lain sebagainya bisa didapatkan. di sisi lain perkembangan yang ada pada televisi ini bisa kita lihat mulai dari adanya tv tabung, plasma hingga adanya TV LED yang sebagian besar sudah bisa di nikmati oleh masyarakat dengan mudah. harga TV yang berbeda - beda dari jenis tv tersebut tentu saja akan berdampak pada kenyamanan penikmatnya atau pemakainya sehingga kemudian akan terasa secara tidak langsung terhadap kemampuan ekonomi dari masyarakat itu sendiri.

     TV Merk Panasonic

    Harga TV Panasonis

    Sebagaimana kita ketahui bahwasannya negara Indonesia merupakan negara yang masyarakatnya adalah mayoritas ber - tipe konsumtif sehingga apabila anda produk - produk yang baru bermunculan di pasaran ini tidaklah akan sulit untuk terjual dengan waktu yang lama apalagi manfaatnya sudah benar - benar bisa dirasakan secara langsung oleh masyarakat. salah satu yang menjadi tolak ukur pada tipe masyarakat di Indonesia ini adalah lagunya atau terjualnya televisi televisi yang ada di pasaran termasuk televisi beserta dari perusahaan Panasonic. dengan harga TV Panasonic ini berkisar tidak lebih dan tidak kurang bisa di jangkau oleh masyarakat pada umumnya sehingga apabila saat ini anda sedang mencari televisi baik itu lcd atau LED produk Panasonic sangat tepat untuk Anda jadikan sebagai referensi atau televisi yang pas untuk di bawa ke rumah anda.

    Tentu saja semua produsen yang memproduksi televisi mengutamakan kualitas dan keunggulan nya masing asing Tetapi yang perlu Anda ketahui terhadap produksi dari Panasonic ini adalah bisa mendapatkan kenyamanan dan kualitas yang tinggi serta bisa di jangkau oleh masyarakat. dan untuk mendapatkannya tentulah tidak sangat sulit bagi kita apalagi saat ini kita bisa dengan mudah memesannya melalui internet karena sudah banyak sekali masyarakat sekarang memesan produk produk melalui internet di handphonenya. 

    0 0

    alisakit.com - Saya kangen menulis cerpen lagi. Sayangnya belum bsia membuahkan satu cerpenpun. Tak apalah, saya mau coba posting cerpen lama saya yang semoga masih sesuai dengan jaman sekarang yang serba sosial media.

    Cerpen tentang lelaki masa lalu ini sebenarnya sudah saya tulis sejak tahun 2011 lalu, tapi memang proses penggarapannya ogah-ogahan. Cerpen ini bercerita tentang seorang wanita yang mencintai laki-laki dan hingga laki-laki itu memiliki istri, cintanya tak pernah pudar sedikitpun.

    Cerpen tentang tak bisa melupakan mantan, mungkin ini yang tepat kalau kata anak jaman sekarang. Bisa dibilang juga ini adalah cerpen tentang selingkuh karena tokoh didalamnya merupakan tokoh yang sudah  berkeluarga. Silakan menikmati bacaan cerpen kali ini :

    Lelaki Masa Lalu

    Oleh : Wirasatriaji

    Senja perlahan memasuki gerbang malam. Menjanjikan lentera diantara kelamnya bagi jiwa-jiwa pemimpi. Seorang wanita muda berdiri di sebuah halte. Ingin menumpahkan airmata, sulit terasa. Seakan kering. Hanya sesekali mengusap kening anak lelaki yang terlelap dalam dekapannya karena lelah seharian menemaninya menyusuri kota.

    Kembali wanita itu melirik jam di pergelangan. Jam tangan tua murahan hadiah lelaki yang pernah menidurinya dan katanya mencintainya. Sudah lebih dari sejam ia menunggu lelaki itu. Mahmud, lelaki masa silam yang sekarang sudah beristri orang. Dipandanginya anak lelaki dalam dekapan. Mengusap kembali keringat yang membanjir di kening buah hatinya. Ini nafasku, bisik lirih hatinya.

    Dalam angannya tergambar betapa penderitaan telah dia rasakan. Ketika harus terusir dari keluarga dan melahirkan bayi tanpa suami. Beruntung bu Karti, seorang janda tua yang tinggal di belakang pabrik teh ujung jalan itu mau menampungnya. Kala itu hujan deras mengetuk nurani bu Karti untuk menolong wanita hamil yang berteduh di pojok pagar pabrik. Hingga sekarang, Siti masih bersamanya. Menganggap wanita tua itu adalah ibunya, begitu juga sebaliknya.

    Cerpen Tentang Perselingkuhan


    Senja yang benar-benar lenyap menyambut sebuah mobil sedan hitam yang mengkilap menepi tak jauh dari halte. Untuk keempat kalinya menjanjikan pertemuan, baru kali ini Mahmud menepatinya. Dan tentu dengan keterlambatan. Siti menghampirinya dengan tergesa-gesa untuk kemudian masuk ke dalam mobil.

    Malam masih muda memayungi mobil yang melaju perlahan. Membawa wanita muda yang terduduk manis di kursi depan. Tatapnya masih dipenuhi kepahitan.

    "Sudah kau batalkan keberangkatanmu jadi TKW, Ti?" tanya mahmud, lelaki berparas penuh wibawa di belakang kemudi.

    "Aku masih ragu mas, aku takut melakukan kesalahan lagi. Ini demi masa depan Wahyu. Lagipula, mumpung dapat penempatan di Malaysia, " jawab lirih Siti.

    "Kesalahan yang bagaimana maksud kamu? Kan aku sudah bilang, kalau masalah uang jangan kuatirkan. Semua biaya hidup kalian dan sekolah Wahyu biar aku yang akan menanggung. Kamu..." nada Mahmud meninggi.

    “Jangan mas! aku tidak mau merusak rumah tangga orang,” potong Siti.

    "Tolonglah Ti, beri aku kesempatan untuk memperbaiki kesalahanku. Aku tahu aku salah."

    "Tidak ada yang perlu diperbaiki, mas. Sekarang aku sudah cukup puas kok, melihat Wahyu bertemu bapaknya."

    Sejenak keheningan menyeruak diantara alunan musik Jazz dari tape mobil.

    "Ti, biarkan Wahyu kuadopsi."

    Siti tergelak, "jangan gila kamu mas!"

    "Istriku mandul, Ti" desah lirih Mahmud.

    "Itu bukan urusanku," Siti menjawab dengan dingin.

    "Maafkan aku, Ti. Selama ini belum bisa menghubungi atau mengangkat teleponmu. Istriku sekarang sering ke kantorku."

    Siti memaku, memberi peluang lebih dalam pada diam. Buah hatinya tetap lelap dalam dekapnya.
    Keduanya terdiam sampai mobil yang mereka tumpangi memasuki parkiran sebuah penginapan.

    "Mau apa kita kesini, mas?" tanya Siti sepertinya tak hendak turun saat mobil telah terparkir.

    "Ayolah, kita perlu bicara, Ti. Supaya masalah ini cepat selesai. Di sini lebih tenang. Kuharap kita bisa berpikiran jernih menghadapi ini."

    Mahmud keluar dari mobil diikuti Siti. Mereka berjalan bersisian menuju lobby hotel.

    ***

    Siti mematung di tepi Sping Bed bercorak kembang sepatu. Tatapnya kosong ke arah luar jendela, memandangi kedip bintang yang tak sempurna sinarnya. Mahmud baru saja keluar dari kamar mandi dengan terbalut lilitan handuk.

    "Kamu nggak mandi?" tanya Mahmud.

    Wanita itu tetap diam tak bergeming.

    "Siti..."  Mahmud mendekat dan memegang punggung perempuan itu, "tolong jangan bikin semuanya jadi lebih sulit dengan diammu” lanjutnya.

    Siti menoleh, "mungkin mas bisa berpikir untuk merubah sesuatu dengan gampang sesuai kehendak, tapi mas tidak pernah tahu apa yang sudah kuperjuangkan untuk hidup."

    "Justru karena itu aku ingin menebusnya sekarang," potong Mahmud.

    "Dengan mengadopsi Wahyu? merebut apa yang sudah kuperjuangkan? Atau dengan cara menghidupi kami secara ilegal? Tidak, mas. Aku tetap akan ke luar negeri.”

    “Jangan keras kepala kamu Ti!” bentak Mahmud.

    “Jika aku tidak keras keras kepala, Wahyu tidak akan pernah ada mas...!” suara Siti ikut meninggi.

    "Kalau mas menginginkan Wahyu, mas harus mengawiniku secara resmi. Menikah! Dan aku bersedia batal berangkat ke Malaysia," lanjutnya dengan tertunduk.

    "Kamu gila, Ti, itu nggak mungkin."

    "Meskipun miskin, tapi aku masih boleh punya harga diri kan, mas? aku nggak ingin nanti anakku bertanya-tanya, Ibu dapat uang dari mana? Biaya sekolah dari mana? Jadi biarkan aku hidup sesuai kehendakku. Karena, setelah ini aku tidak akan mengganggumu lagi, mas. Aku datang hanya mengantarkan Wahyu melihat bapaknya. Itu saja."

    Mahmud terdiam. Hening seketika mengepung dua insan.

    "Baik, aku akan menikahimu kalau itu yang kamu inginkan, kalau itu bisa membuatmu tetap tinggal disini."

    Seketika perempuan itu menoleh dengan kaget. Dia sama sekali tidak menyangka Mahmud akan bicara seperti itu.

    “Mas! itu tidak mudah,” Siti berkomentar.

    "Mungkin dengan menikahimu, aku bisa menebus kesalahan masa laluku. Sudah, kamu mandi sana," pinta Mahmud.

    Siti bergegas menuju kamar mandi. Mahmud terdiam, menyandarkan punggungnya di kursi, menatap langit-langit. Meremas-remas rambutnya sendiri.

    ***

    Tetapi malam tetaplah malam. Ia menyimpan sejuta syahwat manusia. Siti duduk di pinggir tempat tidur sambil menonton TV usai mereka makan malam. Mahmud mendekati perempuan itu dan mendekapnya dari belakang. Mengecup ubun-ubunnya. Siti mencoba melepaskan pelukan laki-laki yang masih ia hafal bau tubuhnya. Siti sedikit gemetar, mengenang bahwa laki-laki itu adalah laki-laki yang dicintainya. Dan Mahmud semakin mempererat pelukannya. Mulai mencium leher perempuan itu, membuatnya menggelinjang pelan.

    "Mas, jangan..." desah Siti.

    Lelaki itu sepertinya sudah dibakar birahi. Dengan sedikit kasar, Mahmud membalikkan tubuh perempuan itu dan mulai mencumbunya habis-habisan. Siti mencoba berontak, antara sebuah kerinduan dan ketakutan. Ia resah, bagaimanapun lelaki itu sudah beristri. Namun akhirnya ia pasrah.

    ***

    "Pikirkan lagi, nduk. Sebelum kamu putuskan untuk membatalkan keberangkatanmu ke Malaysia itu, sebelum nantinya kamu menyesal," saran bu Karti ketika Siti bercerita tenang rencananya.
    Suara TV dan radio tetangga terdengar mengalun di sela-sela rumah. Wahyu telah lelap dalam buaian perempuan tua itu.

    "Apa lagi yang harus dipikirkan, bu? Mas Mahmud sudah berjanji kok."

    "Huh, laki-laki itu..." keluh bu Karti sambil membawa Wahyu masuk ke dalam kamar, membaringkannya dan kembali ke ruang depan menemui Siti. "Apa yang kamu harapkan dari dia? menikahi kamu? Dia sudah beristri. Bukan hal mudah lho mau cerai dan menikahi kamu. Apa ndak kamu pikirkan masa depan Wahyu?"

    "Tapi mas Mahmud sudah janji, bu," kembali Siti meyakinkan bu Karti, juga meyakinkan pada dirinya yang sesungguhnya masih ada setangkup keraguan.

    "Apa dia dulu juga janji mau menikahi kamu?" tanya wanita tua dengan kerutan di dahi itu.

    Siti terdiam. Hatinya tumbuh kebimbangan. Antara harus percaya Mahmud, juga mulai mempertimbangkan apa yang dikatakan bu Karti.

    "Katanya dia mau menebus kesalahannya yang dulu, bu. Mas Mahmud juga sudah menunjukkan niat baiknya. Aku ingin mencoba memberi kesempatan, bu.”

    "Ya sudah... tapi kamu harus siap atas segala resikonya. Bukan maksud ibu mau nakut-nakutin kamu." nasehat bu Karti.

    "Nggih, bu." Siti tersenyum.

    ***

    Seminggu telah berlalu, Siti melangkah menuju sebuah Wartel. Mencoba menghubungi nomor telepon kantor Mahmud, tapi nihil. Hanya alasan beraneka yang didapat dari pegawai yang mengangkat teleponnya. Sudah tiga kali Siti meletakkan gagang telpon di wartel itu dengan gundah, namun ia masih saja mengulang nomor yang sama.

    Seminggu, dua minggu, hingga sebulan telah berlalu. Tak pernah sekalipun Siti absen mencoba menghubungi laki-laki yang berjanji padanya. Waktu seakan melangkah lebih cepat. Namun Siti belum juga berhasil berbicara dengan Mahmud. Untuk kesekian kalinya, lagi-lagi hanya alasan dari penerima telepon yang berarti Mahmud tak mau bicara dengannya.

    Tiga bulan terlewat, dan Siti belum menyerah. Dengan sisa-sisa harapan, kembali perempuan itu menghubungi nomor yang setiap harinya tak pernah terlewat itu. Untuk kali ini, entah mimpi apa Siti semalam, Mahmud mengangkat telepon untuknya.

    "Mas? jawab dong mas .... ya? .... dimana? .... Jam berapa? .... Oke, aku tunggu mas," suara Siti antusias menggaung dalam bilik Wartel.

    ***

    Siti duduk dengan gelisah di bangku Halte biasa. Halte yang selalu menjadi tempat menunggu lelaki masa lalunya. Berulang kali melirik jam tangan murahan yang dihadiahkan Mahmud waktu dia masih jadi mahasiswa. Lalu lalang kendaraan semakin membuat pikirannya gelisah. Mata perempuan itu semakin jalang menjalari jalan raya di depannya, mengharap mobil yang ditunggunya segera menampakkan pandangnya. Sudah setengah jam lewat dari waktu yang ditentukan, Mahmud belum juga muncul untuk menjemputnya.

    Seperempat jam kemudian, seorang anak kecil menghampiri Siti dan memberikan sebuah amplop berwarna putih. Dari seorang lelaki dalam mobil, katanya, dan dia diberi uang sepuluh ribu untuk mengantarkan surat itu kepada Siti. Sebelum Siti sempat bertanya, anak kecil itu sudah berlari menyeberang jalan.

    Siti mencoba menenangkan perasaannya yang sibuk menebak-nebak apa isi surat tersebut. Apa yang terjadi? desah hatinya. Perlahan ia membuka lipatan surat itu,

    Untuk Siti Cahyaningrum,

    Siti, sebelumnya maafkan aku yang tidak bisa menepati janji-janjiku sama kamu dan Wahyu. Aku tidak pernah bermaksud membohongimu. Tidak ada sedikitpun maksud itu. Aku tetap mencintaimu sebagaimana dulu, dan kuharap kaupercaya. Aku mencintai Wahyu sebagaimana anakku. Tapi aku sama sekali tidak punya kuasa untuk meninggalkan istriku. Aku berhutang terlalu banyak sama dia dan keluarganya, Ti. Hutang budi karena telah menyelamatkan keluargaku saat-saat jatuh. Jangan tanyakan apakah aku mencintai Istriku, ini hanya sebuah kewajiban untuk membalas budi baik mereka.

    Siti, sekali lagi maafkan aku, kuharap kamu mau mengerti. Istriku sudah mengetahui hubungan kita. Dia punya orang-orang suruhan dimana-mana untuk memata-mataiku. Dia tahu kita pernah bertemu di hotel itu. Dia langsung mengultimatumku, Ti.

    Untuk sementara ini aku dipindahkan ke Perusahaan di Jakarta. Kami akan pindah dalam minggu ini. Maafkan aku karena telah mengecewakanmu. Aku tak punya kuasa apa-apa dalam hal ini.
    Sampaikan salamku untuk Wahyu. Kalau keadaan sudah membaik, aku usahakan kirim uang ke kamu. Maafkan sekali lagi karena aku kamu telah membatalkan kepergianmu ke Malaysia.
    Dari orang yang selalu mencintaimu,

    Mahmud

    Air mata mengalir pelan, terisak di dadanya. Sakit, namun tak terlihat luka.  Jantung terasa terlepas, hatinya terbakar dan jiwapun menggelepar meratapi perih. Surat dalam genggaman Siti, terjatuh bersama lembaran lain yang sejak tadi dibawanya dari rumah. Secarik kertas terhempas angin lalu masuk dalam kubangan. Selembar surat berkop nama sebuah Klinik Kesehatan. Di bawahnya tertulis nama Siti Cahyaningrum, dengan keterangan positif  hamil.

    Mau lanjut baca cerpen? bisa coba baca Cerpen tentang mencintai Sahabat.



    0 0

    Kota Malang dan sekitarnya telah terkenal dengan banyak tempat wisata kekinian yang tak boleh dilewatkan saat liburan. Memiliki hawa sejuk dan nyaman kota ini merupakan pilihan tepat untuk melepas penat. Namun apakah Anda sudah mengetahui sisi lain tempat wisata di Malang yang belum banyak terjamah? Berikut sajian informasinya untuk Anda:

    Destinasi Wisata di Kota Malang 


    Pantai Tiga Warna
    Sumber : Maripiknik.com
    Untuk masuk ke pantai yang terletak di desa Tambakrejo ini, Anda harus melakukan reservasi terlebih dahulu karena merupakan kawasan Clungup Mangrove Conservation. Pengunjungnya pun dibatasi hanya 100 orang per hari. Namun Anda dijamin tidak akan menyesal karena pemandangan alam yang begitu indah dengan tiga warna air laut yang dapat dinikmati dari pantai. Perbedaan warna ini terlihat jelas akibat perbedaan kedalaman air laut. Jika sudah puas memanjakan diri dengan angin laut di sini, jangan lupa bawa pulang sampahnya juga ya kalau tak ingin kena denda.

    Gua Lo Bangi
    Untuk Anda yang menyenangi wisata susur gua, gua Lo Bangi yang terletak di dusun Ngliyep, desa Kedungsalam, Donomulyo, Malang ini patut disambangi. Terdapat dua buah gua yang berlokasi kurang lebih 5 km dari pantai Ngliyep ini. Gua Lo dan Gua Bangi terhubung oleh satu sistem sungai bawah tanah yang dapat disusuri. Keindahan stalaktit, stalagmit serta kolam-kolam air yang ada di dalamnya dijamin akan membuat Anda puas dan kagum dengan kealamian gua ini.

    Kawah Pantai Mbehi
    Berbeda dari pantai lainnya, di pantai yang terletak di desa Sumberbening, Bantur, Malang ini Anda dapat menemukan sebuah lubang di tepi karang yang mirip dengan kawah. Fenomena semburan air yang melewati lubang tersebut begitu unik untuk dicermati. Pantai ini sendiri terletak di balik hutan lindung. Dengan dua tebing yang mengapitnya, panorama alam yang ditawarkan begitu indah. Tepian pantainya berbentuk seperti cekung seperti teluk dan sering disebut dengan Teluk Bidadari. Airnya yang jernih berwarna biru kehijauan akan memukau mata Anda dan membuat pikiran menjadi rileks. Mata Air Sumber SirahSebuah sumber air tawar yang begitu jernih terdapat di desa Sumberjaya, Gondanglegi, Kabupaten Malang. Di sana Anda bisa bermain air sekaligus snorkeling di bawah air. Hal yang unik dari mata air ini adalah tanaman ganggang hijau yang terletak di dasar airnya. Jangan lupa bawa peralatan berenang dan kamera tahan air supaya bisa puas berfoto di sana ya.

    Coban Nirwana
    Sumber : dakatour.com

    Memiliki nama lain Coban Mbok Karimah, tempat wisata ini berbentuk air terjun yang masih asri dan begitu segar. Air terjun ini memiliki dua tingkat utama yang terlihat dengan aliran air yang cukup deras. Waktu terbaik untuk mendapatkan pemandangan yang indah adalah tepat di saat musim hujan selesai dan telah memasuki musim kemarau. Coban Nirwana terletak di perbatasan antara Kecamatan Gedangan dan Kecamatan Sumber Manjing Wetan, tak jauh dari Pasar Gedangan.Nah, itu tadi beberapa potensi wisata di Malang yang masih tersembunyi. Anda dapat merencanakan untuk liburan ke sana bersama teman atau keluarga. Jangan lupa juga untuk membuat persiapan agar liburan Anda menyenangkan.

    Kini Anda tak perlu pusing bila akan mencari hotel di Malang untuk menginap. Pesan saja lewat web atau aplikasi Airy yang memiliki jaringan hotel terbanyak di Indonesia. Dengan pelayanan tepercaya, hotel di Airy akan memanjakan Anda dengan 7 jaminan fasilitas lengkap seperti adanya televisi di kamar, ruangan ber-AC, peralatan mandi air hangat yang lengkap bahkan wifi gratis yang tentunya tidak akan membuat Anda kecewa saat berada di Airy Rooms. Ayo segera rencanakan liburan Anda!

older | 1 | (Page 2)